Friday, March 27, 2015

Perangkat Keras Jaringan Komputer

Pengertian
Perangkat keras jaringan komputer adalah alat-alat atau perangkat yang digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih komputer dalam jaringan komputer yang bertujuan agar setiap komputer yang terhubung dapat saling berbagi data, file, informasi, dan sumber daya lainnya.

Beberapa perangkat keras jaringan komputer : 
 
1. Network Interface Card (NIC)
Network Interface Card atau biasa disingkat NIC adalah sebuah kartu yang mempunyai fungsi sebagai jembatan dari komputer ke sebuah jaringan komputer. Jenis NIC yang beredar, terbagi menjadi dua jenis, yakni NIC yang bersifat fisik, dan NIC yang bersifat logis. Contoh NIC yang bersifat fisik adalah NIC Ethernet, Token Ring, dan lainnya, sementara NIC yang bersifat logis adalah loopback adapter dan Dial-up Adapter. Disebut juga sebagai Network Adapter. Setiap jenis NIC diberi nomor alamat yang disebut sebagai MAC address, yang dapat bersifat statis atau dapat diubah oleh pengguna.
 

TPLink TF-3200
Harga : Rp 70.000/Pcs

2. Modem
Modem adalah singkatan dari modulator dan demodulator. Modulator berfungsi untuk melakukan proses menumpangkan data pada sinyal informasi ke sinyal pembawa agar dapat dikirim ke pengguna melalui media tertentu, proses ini biasa disebut dengan proses modulasi. pada proses ini data dari komputer yang berbentuk sinyal digital akan diubah menjadi sinyal analog. Sedangkan Demodulator berfungsi sebagai proses mendapatkan kembali data yang dikirim oleh pengirim. Pada proses ini data akan dipisahkan dari frekuensi tinggi dan data yang berupa sinyal analog akan diubah kembali menjadi sinyal digital agar bisa dibaca oleh komputer. Jadi fungsi modem adalah sebuah perangkat keras yang berfungsi untuk komunikasi dua arah yang merubah sinyal digital menjadi sinyal analog atau sebaliknya untuk mengirimkan pesan atau data ke alamat yang dituju. Atau dengan lebih mudahnya dapat juga diartikan sebagai perantara untuk menghubungkan komputer kita ke jaringan internet. 
  ASUS Wireless N Router For 3G Modem - WL330N3G
Harga : Rp 706.000

3. Kabel Jaringan (UTP)
Kabel jaringan (UTP) adalah kabel yang menghubungkan antara komputer dengan komputer, dari server ke switch/hub dan lain lain yang berguna untuk transmisi data. kabel jaringan juga sebagai perantara antara user dengan user yang lain dalam satu wilayah lokal. UTP merupakan kepanjangan dari Unshielded Twisted Pair. Disebut Unshielded karena kurang tahan terhadap gangguan interferensi elektromagnetik, dan disebut Twisted Pair karena didalamnya terdiri dari pasangan-pasangan kabel yang disusun secara berlilitan atau membentuk spiral.
 
L-COM  TRD815BL-3  PATCH CORD, CAT5E, RJ45 PLUG, UTP, 3FT
Harga : Rp 55.000/Pcs

4. Konektor
Konektor adalah alat yang menghubungkan kabel dengan network adapter. Bila tidak ada konektor, kabel-kabel jaringan tidak dapat terhubung dengan network adapter atau NIC. Tiap jenis kabel memiliki konektor yang berbeda-beda. Jenis konektor tentunya disesuaikan dengan jenis kabel yang digunakan.
 
 Connector RJ 45 Belden USA Original (50 Pcs)
Harga : Rp 150.000

5. Hub
Hub adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk menyatukan kabel-kabel network dari tiap workstation, server atau perangkat lain. Hub juga merupakan salah satu perangkat keras yang sangat penting dalam jaringan komputer, karena Hub sangat mempengaruhi proses mempercepat koneksi antar komputer sehingga jika Hub mengalami kerusakan maka seluruh jaringan komputer akan terputus dan juga terganggu. Fungsi Hub adalah penerima sinyal dari sebuah komputer dan merupakan titik pusat yang menghubungkan keseluruh komputer dalam jaringan tersebut. Biasanya perangkat keras jaringan ini digunakan untuk membangun topologi bintang, kabel twisted pair datang dari sebuah workstation masuk kedalam hub.
 
 Switch Hub Dlink 16 port/DES-1016
Harga : Rp 350.000


Sumber :









Wednesday, March 18, 2015

Penalaran, Berpikir Deduktif, dan Berpikir Induktif



Penalaran

Pengertian
Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan berpikir logis menggunakan nalar tanpa mempedulikan pengamatan indera atau pengamatan empirik, untuk mencapai pada suatu kesimpulan yang berupa pernyataan baru atau pengetahuan.

Proposisi
Proposisi adalah suatu pernyataan atau dapat disebut juga istilah yang terdapat di antara subjek dan predikat yang dapat membuat suatu kalimat atau ungkapan yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau juga dapat dibuktikan benar atau tidaknya.
Kalimat-kalimat seperti kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, itu bukan termasuk proposisi, yang termasuk adalah seperti kalimat berita yang netral. Tapi kalimat-kalimat yang tidak termasuk itu juga dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi laimat berita yang netral.
Proposisi dalam ilmu logika mempunyai tiga unsur, yaitu :
-        Subyek, adalah sebuah kata atau rangkaian beberapa kata untuk diterangkan atau kalimat yang dapat berdiri sendiri (tidak menggantung).
-        Predikat adalah perkara yang dinyatakan dalam subjek.
-        Kopula adalah kata yang menghubungkan subjek dan predikat seperti misalnya adalah, ialah, yaitu, itu, merupakan.

Inferensi dan Implikasi
a)     Inferensi adalah tindakan atau proses membuat kesimpulan berdasarkan ungkapan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar. Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai idiomatik. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Dalam inferensi terdapat 2 jenis inferensi yaitu, langsung dan tidak langsung.
·       Inferensi langsung :         
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
                        Contoh :         
                        Bu, besok temanku berulang tahun. Saya diundang makan malam. Tapi saya tidak punya baju baru, kadonya lagi belum ada.
Maka inferensi dari ungkapan tersebut , bahwa tidak bisa pergi ke ulang tahun temannya.
·       Inferensi tidak langsung :
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua atau lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan proposisi lama.
                        Contoh :         
                        A : Saya melihat ke dalam kamar itu.
B : Plafonnya sangat tinggi.
Sebagai missing link diberikan inferensi, misalnya:
C: kamar itu memiliki plafon
b)     Implikasi yaitu rangkuman, sesuatu yang dianggap ada karena sudah dirangkum dalam fakta yang juga merpakan suatu pernyataan logika yang hanya akan bernilai salah ketika sebab bernilai benar dan akibat bernilai salah.
            Implikasi dapat merujuk kepada:
·       Dalam manajemen:
o   Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi,   perencanaan kerja dan formulasi kebijakan
o   Implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan.
·         Dalam logika:
o   Implikasi logis dalam logika matematika.
o   Kondisional material dalam filsafah logika.

Wujud Evidensi
Evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya suatu kebenaran atau fakta. Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh digabung dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan atau penegasan. Dalam wujud yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu, biasanya berupa statistik, dan keterangan-keterangan yang dikumpulkan atau diberikan oleh orang-orang kepada seseorang, semuanya dimasukkan dalam pengertian data (apa yang diberikan) dan informasi (bahan keterangan). Evidensi sering juga disebut bukti empiris.

Cara Menguji Data
Data dan informasi adalah catatan dari kumpulan yang merupakan fakta. Metode pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Sedangkan instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah untuk diolah atau dianalisis. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi.
Beberapa metode untuk menguji data yaitu :
-        Observasi
Observasi atau dapat disebut juga pengamatan merupakan seluruh kegiatan pengamatan terhadap objek dengan menggunakan seluruh alat indra yaitu dengan penciuman, penglihatan, pendengaran, peraba dan pengecap. Pengamatan dengan menggunakan alat indra seperti ini disebut pengamatan langsung. Di dalam penelitian observasi dapat dilakukan dengan menggunakan tes, kuesioner, rekaman, dan lain-lain.
-        Interview
Interview merupakan dialog yang dilakukan oleh pewawancara kepada responden untuk menggali informasi.
-        Dokumentasi
Dokumentasi, berasal dari kata dokumen yang artinya semua barang-barang yang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi , peneliti menyelidiki benda benda tertulis seperti buku, notulen rapat, catatan, peninggalan benda purbakala yang merupakan symbol symbol atau gambar.
-        Otoritas
Otoritas adalah kapasitas, bawaan atau diperoleh untuk melaksanakan pengaruhnya terhadap kelompok. Otoritas sering disamakan dengan istilah 'kekuasaan', padahal sebenarnya tidak sama, kekuasaan lebih mengacu pada kemampuan untuk memrintah seseorang yang orang lain tidak memiliki kemampuan itu.

Cara menguji Fakta
·       Konsisten
Konsistensi dalam ilmu logika adalah sebuah sematik dengan sematik yang lainnya tidak mengandung kontradiksi. Tidak adanya kontradiksi dapat diartikan baik dalam hal semantik atau berhubung dengan sintaksis. Konsisten adalah salah satu sikap dari manusia yang sifatnya adalah untuk memegang teguh suatu prinsip atau pendirian dari segala hal yang telah di tentukan.
·       Koherensi
Koherensi adalah bagaimana terjadinya pengaturan antara kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya.
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.

Cara Menilai Autoritas
-        Tidak mengandung prasangka.
Pendapat yang ada disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli atau didasarkan pada hasil eksperimen yang dilakukannya, bukan hanya sekedar prasangka atau praduga yang masih belum dibuktikan kebenarannya.
-        Pengalaman dan pendidikan autoritas
Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal untuk menilai autoritas. Pendidikan yang sudah diperoleh harus dikembangkan lebih lanjut di dalam kegiatan sebagai seorang ahli. Pengalaman yang diperoleh autoritas, penelitian yang dilakukan, presentasi hasil penelitian dan pendapatnya akan memperkuat kedudukannya.
-        Kemashuran dan prestise
Pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas harus diketahui apakah hanya sekedar bersembunyi dibalik kemashuran dan prestise pribadi di bidang lain atau tidak.
-        Koherensi dengan kemajuan.
Terakhir adalah apakah pendapat yang diberikan autoritas sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman atau koheren dengan pendapat sikap terakhir dalam bidang yang sedang diteliti itu.


Berpikir Deduktif

Pengertian deduktif adalah penarikan atau pengambilan kesimpulan untuk suatu atau beberapa kasus khusus yang didasarkan kepada suatu fakta umum. Pengertian ini diambil dari kata deduksi yang berasal dari bahasa inggris yaitu deduction. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan atau proposisi dan sebuah kesimpulan atau konklusi.
Jenis-jenis Silogisme

1. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial adalah silogisme yang disusun berdasarkan klarifikasi premis dan semua kesimpulannya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor. Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh:
    Mayor : Semua tanaman membutuhkan air.
    Minor : Pohon jambu adalah tanaman.
    Kesimpulan : Pohon jambu membutuhkan air.

2. Silogisme Hipotetik
Silogisme hipotetik yaitu pernyataan yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, tapi untuk premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term antecedent atau term konklusi premis mayornya.
Terdapat 4 macam tipe silogisme hipotetik :
-        Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh:
Mayor : Jika cuaca panas saya menggunakan payung.(mayor)
Minor : Sekarang cuaca panas.
Kesimpulan : Saya menggunakan payung.
-        Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
Mayor : Jika hujan turun, jemuran baju akan basah.
Minor : Sekarang jemuran baju telah basah.
Kesimpulan : Hujan telah turun.
-        Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent.
Contoh:
Mayor : Jika harga BBM naik, maka kegelisahan akan timbul.
Minor : Harga BBM tidak naik.
Kesimpulan : Kegelisahan tidak akan timbul.
-        Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
Contoh:
Mayor : Bila masyarakat berdemo, pihak polisi akan gelisah.
Minor : Pihak polisi tidak gelisah.
Kesimpulan : Masyarakat tidak berdemo.

3. Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif yaitu silogisme yang tersusun atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya dan akan membuat kesimpulan yang menolak alternatif yang lain.
Contoh:
            Mayor : Dosen itu mengajar di Depok atau Salemba.
            Minor : Dosen itu mengajar di Salemba.
Kesimpulan : Jadi, Dosen itu tidak berada di Depok.

4. Entimen
Pada silogisme ini dapat kita ketahui dalam percakapan di kehidupan sehari-hari, suatu logisme seringkali diperpendek, yakni tanpa menyebutkan premis-premis umum. Seseorang lansung mengatakan kesimpulan yang diikuti dengan premis khusus sebagai penyebabnya. Bentuk silogisme seperti ini disebut entimen.
Contoh:
Mayor : Semua Presiden yang jujur tidak mau melakukan korupsi.
Minor : Pak Jokowi seorang pemimpin yang jujur.
Kesimpulan : Pak Jokowi tidak mau melakukan korupsi.
Entimen : Pak Jokowi tidak melakukan korupsi, karena ia seorang Presiden yang jujur.


Berpikir Induktif

Induksi yaitu cara untuk mempelajari sesuatu yang bertolak belakang dari peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang sifatnya umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran dengan cara induktif dapat dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang punya ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi.
Jenis-jenis berpikir induktif :

1. Generalisasi
Generalisasi merupakan penalaran untuk penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada yang bertolak dari fenomena individual.
Generalisasi dibagi menjadi 2 :
-        Generalisasi Sempurna / tanpa loncatan induktif
Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
-        Generalisasi Tidak Sempurna / dengan loncatan induktif
            Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada

2. Hipotesa dan Teori
Hipotesa merupakan bagian dari informasi yang masih belum dapat dipastikan kebenarannya, sedangkan Teori adalah sebuah fakta yang sudah tepat dan dapat dipertanggung jawabkan. Hipotesa adalah semacam teori yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta tertentu sebagai tuntunan untuk meneliti fakta lebih lanjut. Sebaliknya, teori sebenarnya merupakan hipotesa yang secara relative lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotesa. Hipotesa merupakan suatu dugaan yang bersifat sementara, sedangkan teori merupakan hipotesa yang telah di uji dan yang sudah dapat diterapkan.

3. Analogi
Analogi adalah penarikan kesimpulan dengan berdasarkan pada kesamaan data atau fakta. Pada analogi biasanya membandingkan 2 hal yang memiliki karakteristik berbeda namun dicari persamaan yang ada di tiap bagiannya.
Tujuan dari analogi :  - Meramalkan kesamaan.
                                    - Mengelompokkan klasifikasi.
                                    - Menyingkapkan kekeliruan.

4. Hubungan Kausal
  Merupakan perinsip sebab-akibat yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.

Induksi Dalam Metode Eksposisi
Ini adalah salah satu jenis pengembangan pada paragraf di dalam penulisan yang isinya ditulis dengan maksud dan tujuan untuk memberikan penjelasan dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.


Sumber Penulisan :

Thursday, July 24, 2014

Berawal dari Nama


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

Juventus FC adalah klub sepakbola yang berasal dari Turin, Italia. Saya adalah penggemar dari Juventus sejak dulu sampai sekarang. Mengapa dan bagaimana saya bisa menjadi penggemar Juventus? Inilah yang akan saya ceritakan pada kesempatan kali ini. 

Semua berawal dari nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya, yaitu Alessandro Kevin, yang diambil dari nama seorang legenda Juventus bernama Alessandro Del Piero. Walaupun nama saya diambil dari nama Del Piero, Ayah saya bukanlah seorang Juventini, tapi Ayah saya adalah penggemar AC Milan atau yang biasa disebut Milanisti. Sewaktu kecil saya belum paham mengapa nama saya bisa diambil dari nama pemain Juventus. Kemudian sewaktu remaja saya mulai mencari tahu dan saya pun menemukan alasannya. Ternyata sewaktu tahun 1993 di tahun kelahiran saya, Del Piero diperebutkan oleh Juventus dan AC Milan. Dan akhirnya Del Piero masuk ke Juventus sehingga saya menjadi Juventini. 

Selama ini saya hampir tidak pernah melewatkan setiap pertandingan Juventus yang disiarkan di TV lokal, karena dulu perkembangan Internet belum seperti saat ini, sehingga tidak memungkinkan untuk menonton pertandingan yang tidak disiarkan oleh TV lokal. Saya sangat mengagumi cara bermain Del Piero, dia mampu membuat perubahan dan ahli dalam tendangan bebas maupun tendangan penalti. Sempat terpuruk ke Serie B tidak menghentikan dukungan saya pada Juventus, terlebih lagi Del Piero pun tetap bertahan dan setia pada Juventus. Dan walaupun setelah kembali ke Serie A mereka masih belum bisa mengembalikan kejayaan mereka, tapi saya tetap mendukung Juventus.

Kejayaan muncul ketika Juventus kembali meraih Scudetto pada musim pertama dilatih oleh Antonio Conte , bahkan Juventus mengakhiri musim itu tanpa kekalahan. Tapi kebahagiaan itu tidak sepenuhnya dirasakan ketika mendengar kabar itu adalah musim terakhir Del Piero, karena klub tidak memperpanjang kontraknya. Itu adalah kabar terburuk yang pernah saya dengar selama bertahun-tahun menjadi pendukung Juventus. Saya selalu berharap kabar itu tidak benar dan pihak klub akan mempertahankan Del Piero. Tapi ternyata kabar itu benar dan Del Piero meninggalkan Juventus.

Pertandingan dengan Atalanta dimusim 2011-2012 menjadi yang terakhir untuknya. Walaupun pertandingan itu dimulai jam 02.00 WIB, saya memaksakan diri menyaksikan pertandingan terakhir Del Piero. Di pertandingan itu Del Piero dimainkan sejak awal dan dia mencetak goal terakhirnya di Juventus. Pada babak kedua dia digantikan oleh Simone Pepe. Pertandingan sempat terhenti karena pemain Juventus dan juga pemain Atalanta memberi salam perpisahan kepadanya, bahkan wasit dan pelatih Atalanta pun ikut menghampirinya karena itu adalah pertandingan terakhirnya di Serie A. Pertandingan masih berjalan saat Del Piero mengucapkan salam perpisahan pada seluruh penonton yang hadir dengan cara mengelilingi lapangan. Banyak penonton yang tidak bisa menahan tangisnya termasuk juga dengan saya. Del Piero pun akhirnya ikut menangis terharu. Itu adalah momen yang mengharukan karena seorang legenda akan meninggalkan Juventus. Walaupun sudah tidak di Juventus, Del Piero tetaplah kebanggan saya dan saya tidak akan berhenti mendukung klub yang selama ini saya dukung.


Setelah kepergian Del Piero, pelatih Antonio Conte berhasil membuat Juventus kembali meraih Scudetto hingga 3x berturut-turut. Tapi kemudian Antonio Conte mengundurkan diri dan digantikan oleh pelatih baru. Siapapun pelatihnya, siapapun pemainnya, dukungan untuk Juventus akan terus saya berikan. Forza Juventus!

Saturday, May 17, 2014

Kepemimpinan

Teori dan Arti Penting Kepemimpinan

Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu. Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi dan mengarahkan berbagai tugas yang berhubungan dengan aktivitas anggota kelompok. Kepemimpinan juga diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi berbagai strategi dan tujuan, kemampuan mempengaruhi komitmen dan ketaatan terhadap tugas untuk mencapai tujuan bersama, dan kemampuan mempengaruhi kelompok agar mengidentifikasi, memelihara dan mengembangkan budaya organisasi.

Teori-Teori Kepemimpinan :
1. Teori Genetik (Genetic Theory)
Penjelasan kepemimpinan yang paling tua adalah teori kepemimpinan “genetic” dengan ungkapan yang sangat populer waktu itu yakni “a leader is born, not made”. Seorang dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat-sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dad orang tuanya.
2. Teori Sifat (Trait Theory)
Sesuai dengan namanya, maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kehebatan karakter pemimpin. “Trait” atau sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik dan kemampuan social. Penganut teori ini yakin dengan memiliki keunggulan karakter di atas, maka seseorang akan memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan dapat menjadi pemimpin yang efektif.
3. Teori Perilaku (The Behavioral Theory)
Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui teori “trait”, para peneliti pada era Perang Dunia ke II sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti “behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Fokus pembahasan teori kepemimpinan pada periode ini beralih dari siapa yang memiliki kemampuan memimpin ke bagaimana perilaku seseorang untuk memimpin secara efektif.
4. Situasional Leadership
Pengembangan teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan teori-teori sebelumnya dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif. Dalam “situational leadership” pemimpin yang efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya secara tepat. Seorang pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika situasi dan menyesuaikan kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada. Empat dimensi situasi yakni kemampuan manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan karakter pekerja. Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan seorang.

Tipologi Kepemimpinan

Tipologi kepemimpinan disusun dengan titik tolak interaksi personal yang ada dalam kelompok . Tipe-tipe pemimpin dalam tipologi ini dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe berdasarkan jenis-jenisnya antara lain:

1.Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

2.Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3.Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.

4.Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

5.Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan

Pemimpin memiliki tugas menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompok. Dari keinginan itu dapat dipetik keinginan realistis yang dapat dicapai. Selanjutnya, pemimpin harus meyakinkan kelompok mengenai apa yang menjadi keinginan realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan. Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanakannya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses dimana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain. Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpin yang profesional, dimana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Disamping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebasan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan dalam organisasi, yaitu :
- Kecerdasan : seorang pemimpin harus mempunyai kecerdasan yang melebihi para anggotanya
- Kematangan dan keluasan social (Social manutary and breadth) : seorang pemimpin biasanya memiliki emosi yang stabil, matang, memiliki aktivitas dan pandangan yang ckup matang
- Motivasi dalam dan dorongan prestasi(Inner motivation and achievement drives) : dalam diri seorang pemimpin harus mempunyai motivasi dan dorongan untuk mencapai suatu tujuan
- Hubungan manusiawi : pemimpin harus bisa mengenali dan menghargai para anggotanya Menurut Greece, di dalam suatu organisasi, hubungan antara bawahan dengan pimpinan bersifat saling mempengaruhi.

Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi

Organisasi apapun yang berdiri, tentu akan menggunakan konsep kepemimpinan karena ada unsur filosofi (pandangan), harapan/tujuan, tantangan, dan sumber daya di dalamnya. Semua faktor itu harus diatur sehingga bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan kata lain mesti ada konsep kepemimpinan dalam organisasi. Sebab yang terjadi bila implikasi manajerial kepemimpinan dalam organisasi adalah akan menciptakan kepemimpinan yang baik karna adanya proses manajemen yang direncakan, karena induk dari sebuah perusahaan adalah pemimpin jadi bila pemimpinnya berkualitas maka perusahaan tersebut akan menjukukan kualitasnya. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak kompeten maka perusahaan tersebut tidak mencapai nilai yang berkualitas.


Sumber :

Stoner, James A.F dan R. Edward Freeman. 1989. Management, Prentice-Hall of India.

Vroom V. dan Yetton, P. 1974. Leadership and Decision Making, Pittsburgh, PA:University of Pittsbyrgh Press.